ucapkan ini ya.....

Selasa, 16 Juni 2009

Tenggelam dalam Kesibukan Duniawi

Akankah kita tenggelam dalam kesibukan duniawi sehingga mengabaikan ibadah………..
Rasulullah saw bersabda, ”Tujuh orang yang berada dalam naungan Allah, yaitu di bawah naungan ‘Arsy-Nya, yang pada Hari itu tiada naungan kecuali naungan-Nya : (1) Imam yang adil, (2) Seorang pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebagai bekalnya…” 15]

Bahwa bebas dari kesibukan lain demi tenggelam dalam ibadah dapat terjadi apabila kita meluangkan waktu dan hati untuk-Nya. Dan ini merupakan salah satu hal paling penting dalam hal ibadah. Tanpa hal ini, kehadiran hati tidak mungkin terjadi dan ibadah yang dilakukan tanpa kehadiran dan perhatian hati tidak memiliki nilai. Ada dua hal yang mendorong perhatian hati.

Pertama, memiliki waktu yang luang dan hati yang masih belum disibukkan oleh apa pun;

Kedua, membuat hati memahami pentingnya ibadah. Yang dimaksud dengan “waktu luang” adalah kita harus menyisihkan waktu khusus untuk ibadah, waktu yang kita curahkan diri semata-mata untuk ibadah, tanpa diganggu pikiran atau kesibukan lain.

Kalau kita mau memahami bahwa ibadah adalah satu hal yang penting dan mempunyai arti lebih besar dibandingkan dengan aktivitas lainnya, kita tentu akan menyisihkan waktu untuknya dan dengan saksama memanfaatkan waktu ibadah itu sebaik-baiknya.

Orang yang shalih tentu akan memperhatikan waktu-waktu ibadahnya dalam keadaan apapun. Tentu saja, dia akan memerhatikan waktu-waktu shalat yang merupakan amal ibadah yang penting, melaksanakannya pada waktu-waktunya yang terbaik (awal waktu), dan tidak memikirkan pekerjaan lain selama waktu-waktu itu.

Seperti halnya dia sudi menyisihkan waktu khusus untuk mencari nafkah, belajar dan berdikusi, dia pun juga harus sudi mengkhususkan sebagian waktunya untuk ibadah dan bebas dari pikiran tentang hal lain sehingga dia mendapatkan konsentrasi hati yang merupakan inti ibadah.

Namun, seperti penulis ini, kalau dia beribadah karena terpaksa dan menganggap ibadahnya kepada Tuhan sebagai masalah yang kurang penting, tentu saja dia akan menunda-nundanya selama itu dapat ditunda dan dalam beribadah dia tidak bersungguh-sungguh atau asal-asalan karena menganggap ibadah sebagai menghalangi apa yang dibayangkan sebagai tugas yang penting.

Ibadah semacam itu bukan saja tidak memiliki kecemerlangan spiritual, melainkan juga menyebabkan murka Allah dan dia tergolong orang yang meremehkan dan mengabaikan ibadah. (Kita berlindung kepada Allah dari meremehkan ibadah dan dari tidak memberikan makna yang sepatutnya terhadap ibadah) 16]

Rasulullah saww bersabda, ”Isilah waktu luangmu dengan mentaati Allah dan beribadat kepada-Nya sebelum datang musibah kepadamu yang membuatmu lalai dari beribadah.” 17]

SIBUK BERIBADAH SAMPAI TAK SEMPAT MEMINTA
Al-Qur’an yang mulia mengatakan, ”Janganlah kamu menyembah kecuali kepada Allah.” (al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 83)

Berkata Imam al-‘Askari as tentang ayat di atas, ”Bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang kesibukkannya beribadah kepada Allah sehingga ia tak sempat meminta, niscaya Allah karuniai dia yang lebih utama daripada yang telah Allah berikan kepada orang-orang yang meminta (kepada-Nya)18]

BERIBADAH SAMPAI DATANG KEYAKINAN
Al-Qur’an yang suci mengatakan, ”Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.” (Al Qur’an Surat al-Hijr [15] ayat 99)

Ibadah dan tindakan adalah sarana untuk mengukur keimanan. Keimanan sejati mengejawantah dalam bentuk amal saleh. Jika seseorang beriman kepada Allah, memelihara dirinya serta beramal baik, maka dia tidak akan menderita kesusahan ataupun kesedihan.

Realitas batin manusia pada hakikatnya selalu gembira. Adapun pintu kebahagiaan terletak pada kesadaran bahwa senantiasa mengikuti hawa nafsu itu pada dasarnya cenderung merugikan.

Cara untuk keluar dari kegelapan adalah dengan meyakini bahwa cahaya kebenaran akan diketahui, dan juga dengan memiliki niat serta perbuatan baik. Jadi, seseorang akan mulai dapat melihat kesaling-terkaitan penciptaan dan mengembangkan pemahaman akan adanya substruktur ketuhanan tunggal yang mendasari segala eksistensi.

Orang yang beriman, malahan, menyembah langsung sumber makanan batinnya, yang menjaga agar selamat dari kegelapan yang melingkupi orang lain dan yang memberinya cahaya dan pencerahan.

Sumber tersebut menambah keimanannya melalui ‘ ubudiyah (ibadah)nya dan melindunginya dari segala bahaya. Ibadah menjadikan perjalanannya mu’abbad (mudah, lancar, tidak ada perlawanan). Dengan kerendahan hatinya ia diangkat semakin lama semakin dekat kepada sumber mata air. Dan pada akhir (hayat) nya ia menemukan semua yang ia yakini (pada tahap tertentu) dan abdikan kepada Tuhannya dalam bentuk keyakinan yang hakiki.


BERIBADAHLAH SAMPAI DATANG KEMATIAN

Allah SwT berfirman, ”Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.” (QS 15 : 99)

Menurut para mufassir, maksud al-yaqin pada ayat tersebut adalah al-maut, yaitu kematian, sehingga maksud ayat tersebut adalah : Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian. Atau dengan kata lain: “Abdikanlah dirimu kepada Tuhan selama hidupmu” 19]

Karena itulah Ruhullah Isa as berkata, ”Dan Dia memerintahkan kepadaku untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup.” (QS 19 : 31) 20]

Manusia tidak mendatangi Keyakinan, akan tetapi keyakinanlah yang mendatangi manusia. Itulah karenanya Allah SwT berfirman, ”sampai datang kepadamu keyakinan”. Manusia harus secara aktif mencari Allah, tetapi secara pasif harus rela (ridha) menerima apa pun yang Allah berikan kepadanya. 21]

0 komentar:

Poskan Komentar

translator